Ekonomi Politik
Internasional
Sebuah Pengantar
:
Oleh : Maulana Najmudin
Mata kuliah yang
satu ini diampu oleh Bapak Surwandono, beliau berasal dari Bantul dan pernah
mengenyam pendidikan S1 di Universitas Erlangga Surabaya dan melanjutkan S2 nya
di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan sekarang menjadi dosen di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
Ada beberapa hal
yang menjadi acuan dalam mempelajari Ekonomi Politik Internasional dalam dunia
perkuliahan yang mana terbagi dalam beberapa hal, seperti : Sejarah Ekonomi
Politik Internasional yang akan membahas tentang fakta social dimana kita harus
memahami bersama seberapa besar pengaruh ekonomi dalam dunia perpolitikan dan
apakah politik sendiri yang mengatur ekonomi tersebut, kita ambil studi kasus
di Indonesia dimana kita bisa mengatakan bahwa di Indonesia Politik lah yang
mempengaruhi tingkat ekonomi seseorang dalam hal ini kita sebut saja Hari
Tanoesodibjo selaku pengusaha besar di Indonesia yang terjun kedunia politik,
pada awalnya dia mengatakan kepada massa bahwa pada dasarnya banyak pengusaha
yang menghindari politik, sebenarnya hal itu hanyalah sebagai pengalih isu
melihat bahwa dengan berada didunia politik maka kita akan dapat mempertahankan
eksistensi usaha kita dan mengembangkannya dengan nyaman tanpa ada gangguan
dari pihak tertentu, selain itu sejarah Ekonomi Politik Internasional juga
memiliki scope sebagai suatu subjek mata kuliah dimana kita harus mengetahui
mengapa kita mempelajari Ekonomi Politik Internasional, karena ekonomi dan
politik memiliki arti yang berbeda.
Untuk membedakan
antara ekonomi dan politik maka kita menggunakan beberapa pendekatan seperti
pendekatan sayap kiri atau Marxisme dan pendekatan Struktural Fungsional, dalam
hal ini kita mengutip ucapan Lennin dalam bukunya yang mengatakan bahwa : The
Imperialism as the highest of capitalism, mengindikasikan bahwa
imperialisme politik adalah kapitalisme yang tertinggi.
Pembahasan kedua
adalah mengenai korelasi antara Ekonomi dan Politik, ( Marxisme dan
Merkantilisme memiliki perbedaan pendapat yang sangat mendasar, sehingga
apabila kita mengambil contoh mengapa ada orang miskin ? maka akan mendapatkan
dua pendapat berbeda menurut Aliran Marxis dan Struktural Fungsional, menurut
aliran Marxis orang miskin karena mereka dimiskinkan, dan hak-hak mereka
dirampas, jadi kurang lebihnya kaum Marxis menyalahkan struktur dan sistem yang
ada, hingga mengatakan sistem itulah yang tidak adil.
Sedangkan menurut
kaum pendekatan Struktural Fungsional kemiskinan terjadi karena kemalasan dari
orang tersebut, dan misalkan mereka mengatakan bahwa mereka sudah bekerja maka
mereka akan mengatakan bahwa kemiskinan terjadi karena adanya struktur gaji
yang berbeda, kita ambil contoh pekerjaan seorang dokter dan montir bengkel,
yang melakukan pekerjaan yang tidak sama dan mendapatkan gaji yang tidak sama
pula.
Bab ketiga kita
akan membahas tentang model masalah-masalah dalam ekonomi politik, dan beserta
solusinya yang lebih dikenal dengan sebutan Patologi Sosial, dan menimbulkan
banyak pertanyaan seperti kenapa harus ada embargo ? kenapa harus ada boikot
dan lain sebagainya.
Dan untuk
solusinya dua aliran pendekatan inipun punya cara masing-masing dalam
menganggapi suatu masalah, sebagai contoh menurut aliran Marxisme bahwa
seharusnya tidak perlu adanya Freeport dan Lapindo, karena adanya perusahaan
tersebut hanya menyebabkan kebobrokan ekonomi Indonesia dan menimbulkan dampak
negative dikalangan social. Sedangkan menurut aliran pendekatan Struktural
Fungsional maka dua perusahaan besar tersebut dibutuhkan sebagai peningkat ekonomi
Negara kita.
Bab selanjutnya
akan membahas bagaimana tata cara Ekonomi Politik mulai berkembang di Indonesia
, kita mengenal 2 teori berbeda yaitu Habibitomic dan Sepiotomic, Habibitomic
adalah teori yang dicanangkan oleh Habibie dalam menyelamatkan ekonomi bangsa
dan bersaing dengan ekonomi-ekonomi Negara-negara maju dengan cara bersaing
dengan membuat infrastruktur sendiri dan jadilah mandiri, hal ini pernah
diterapkannya pada masa baktinya menjadi Presiden Indonesia dimana dana yang
akan digunakan untuk reboisasi digunakan untuk membuat serta mengolah
timah-timah diIndonesia menjadi suatu bahan Pesawat, meski mendapat kecaman
dari banyak pihak tapi dalam hal ini yang patut kita acungi jempol kepada Pak
Habibie adalah bahwa beliau berani untuk mengambil track sendiri ingin keluar
dari cengkraman Kapitalisme dan mimpi buruk selalu sebagai bangsa konsumtif
dengan menggunakan timah-timah tersebut untuk diolah menjadi awak pesawat
sebelum disulap menjadi wajan-wajan. Sedangkan menurut aliran kedua yang dikenal
dengan nama Sepiotomic yang beraliran kiri atau Marxisme yang menyarankan untuk
menghentikan distibusi asing, serta menyetop dengan paksa impor dari luar
negeri melalui boikot serta sabotase untuk bertahan serta dengan demikian maka
diharapkan para pengusaha asing akan mengalami kerugian dan pada saat itulah
menggunakan cara lompatan jauh kedepan seperti yang diterapkan oleh China pada
era kepemimpinan Mao.
Meski demikian
masih banyak yang harus kita ketahui bersama, bahwa setiap aliran punya
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Wallahu a’lam.
Sumber :
Perkuliahan Ekonomi Politik Internasional Fisipol UMY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar