Jumat, 08 Maret 2013

ekonomi politik internasional


Ekonomi Politik Internasional
Sebuah Pengantar :
Oleh : Maulana Najmudin
Mata kuliah yang satu ini diampu oleh Bapak Surwandono, beliau berasal dari Bantul dan pernah mengenyam pendidikan S1 di Universitas Erlangga Surabaya dan melanjutkan S2 nya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan sekarang menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ada beberapa hal yang menjadi acuan dalam mempelajari Ekonomi Politik Internasional dalam dunia perkuliahan yang mana terbagi dalam beberapa hal, seperti : Sejarah Ekonomi Politik Internasional yang akan membahas tentang fakta social dimana kita harus memahami bersama seberapa besar pengaruh ekonomi dalam dunia perpolitikan dan apakah politik sendiri yang mengatur ekonomi tersebut, kita ambil studi kasus di Indonesia dimana kita bisa mengatakan bahwa di Indonesia Politik lah yang mempengaruhi tingkat ekonomi seseorang dalam hal ini kita sebut saja Hari Tanoesodibjo selaku pengusaha besar di Indonesia yang terjun kedunia politik, pada awalnya dia mengatakan kepada massa bahwa pada dasarnya banyak pengusaha yang menghindari politik, sebenarnya hal itu hanyalah sebagai pengalih isu melihat bahwa dengan berada didunia politik maka kita akan dapat mempertahankan eksistensi usaha kita dan mengembangkannya dengan nyaman tanpa ada gangguan dari pihak tertentu, selain itu sejarah Ekonomi Politik Internasional juga memiliki scope sebagai suatu subjek mata kuliah dimana kita harus mengetahui mengapa kita mempelajari Ekonomi Politik Internasional, karena ekonomi dan politik memiliki arti yang berbeda.
Untuk membedakan antara ekonomi dan politik maka kita menggunakan beberapa pendekatan seperti pendekatan sayap kiri atau Marxisme dan pendekatan Struktural Fungsional, dalam hal ini kita mengutip ucapan Lennin dalam bukunya yang mengatakan bahwa : The Imperialism as the highest of capitalism, mengindikasikan bahwa imperialisme politik adalah kapitalisme yang tertinggi.
Pembahasan kedua adalah mengenai korelasi antara Ekonomi dan Politik, ( Marxisme dan Merkantilisme memiliki perbedaan pendapat yang sangat mendasar, sehingga apabila kita mengambil contoh mengapa ada orang miskin ? maka akan mendapatkan dua pendapat berbeda menurut Aliran Marxis dan Struktural Fungsional, menurut aliran Marxis orang miskin karena mereka dimiskinkan, dan hak-hak mereka dirampas, jadi kurang lebihnya kaum Marxis menyalahkan struktur dan sistem yang ada, hingga mengatakan sistem itulah yang tidak adil.
Sedangkan menurut kaum pendekatan Struktural Fungsional kemiskinan terjadi karena kemalasan dari orang tersebut, dan misalkan mereka mengatakan bahwa mereka sudah bekerja maka mereka akan mengatakan bahwa kemiskinan terjadi karena adanya struktur gaji yang berbeda, kita ambil contoh pekerjaan seorang dokter dan montir bengkel, yang melakukan pekerjaan yang tidak sama dan mendapatkan gaji yang tidak sama pula.
Bab ketiga kita akan membahas tentang model masalah-masalah dalam ekonomi politik, dan beserta solusinya yang lebih dikenal dengan sebutan Patologi Sosial, dan menimbulkan banyak pertanyaan seperti kenapa harus ada embargo ? kenapa harus ada boikot dan lain sebagainya.
Dan untuk solusinya dua aliran pendekatan inipun punya cara masing-masing dalam menganggapi suatu masalah, sebagai contoh menurut aliran Marxisme bahwa seharusnya tidak perlu adanya Freeport dan Lapindo, karena adanya perusahaan tersebut hanya menyebabkan kebobrokan ekonomi Indonesia dan menimbulkan dampak negative dikalangan social. Sedangkan menurut aliran pendekatan Struktural Fungsional maka dua perusahaan besar tersebut dibutuhkan sebagai peningkat ekonomi Negara kita.
Bab selanjutnya akan membahas bagaimana tata cara Ekonomi Politik mulai berkembang di Indonesia , kita mengenal 2 teori berbeda yaitu Habibitomic dan Sepiotomic, Habibitomic adalah teori yang dicanangkan oleh Habibie dalam menyelamatkan ekonomi bangsa dan bersaing dengan ekonomi-ekonomi Negara-negara maju dengan cara bersaing dengan membuat infrastruktur sendiri dan jadilah mandiri, hal ini pernah diterapkannya pada masa baktinya menjadi Presiden Indonesia dimana dana yang akan digunakan untuk reboisasi digunakan untuk membuat serta mengolah timah-timah diIndonesia menjadi suatu bahan Pesawat, meski mendapat kecaman dari banyak pihak tapi dalam hal ini yang patut kita acungi jempol kepada Pak Habibie adalah bahwa beliau berani untuk mengambil track sendiri ingin keluar dari cengkraman Kapitalisme dan mimpi buruk selalu sebagai bangsa konsumtif dengan menggunakan timah-timah tersebut untuk diolah menjadi awak pesawat sebelum disulap menjadi wajan-wajan. Sedangkan menurut aliran kedua yang dikenal dengan nama Sepiotomic yang beraliran kiri atau Marxisme yang menyarankan untuk menghentikan distibusi asing, serta menyetop dengan paksa impor dari luar negeri melalui boikot serta sabotase untuk bertahan serta dengan demikian maka diharapkan para pengusaha asing akan mengalami kerugian dan pada saat itulah menggunakan cara lompatan jauh kedepan seperti yang diterapkan oleh China pada era kepemimpinan Mao.
Meski demikian masih banyak yang harus kita ketahui bersama, bahwa setiap aliran punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Wallahu a’lam.

Sumber : Perkuliahan Ekonomi Politik Internasional Fisipol UMY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar